Templates by BIGtheme NET

Berpolitik Itu Fadhu Kifayah- BerPKB Itu Ibadah

Politik merupakan ihwal hidup kita sebagai warga bangsa, sebagai warga negara. Selama kita menjadi bagian dari yang namanya bangsa dan negara, maka selama itu pula politik akan mempengaruhi hidup kita, secara langsung maupun tidak langsung. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, politik akan selalu hadir dalam kehidupan kita dengan berbagai cara. Oleh karena itu, keterlibatan kita di dalam politik merupakan hal yang sangat penting.

Dalam kajian syar’i, khususnya bab hukum berpolitik dalam Islam (fiqh al-siyasah), berpolitik termasuk bagian dari keharusan kolektif umat Islam atau fardlu kifayah. Demikian dikatakan oleh Imam
al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin. Menurut al-Ghazali, semua hal yang menyangkut kepentingan orang banyak adalah fardlu kifayah, seperti teknologi, tekstil, pertanian, kedokteran, matematika dan politik (siyasah). Dalam fiqh, fardlu kifayah adalah suatu kewajiban umat secara kolektif. Artinya, jika ada salah satu umat atau golongan telah melaksanakan kewajiban itu, maka gugurlah kewajiban bagi umat atau golongan lain. Tetapi bila tidak ada satu pun umat yang melakukannya, maka seluruh umat di suatu kawasan berdosa semua.

Contoh dari fardlu kifayah adalah salat jenazah. Kalau ada jenazah muslim di suatu desa sudah ada yang mensalatinya, maka gugurlah kewajiban seluruh umat Islam desa tersebut. Tetapi kalau tidak ada satu pun umat Islam yang mensalatinya, maka umat Islam di seluruh desa terkena dosa semua. Jika semakin banyak umat Islam yang mensalati jenazah tersebut, maka itu akan lebih baik dan utama. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: jika mayyit dihalati 3 (tiga) shaf (baris) atau disalati oleh 100 orang, maka dia akan masuk surga.

Perspektif demikian seharusnya menjadi dasar bagi kita untuk melihat urgensi atau sisi kemaslahatan berpolitik. Opini publik yang sementara ini menganggap bahwa politik itu kotor bahkan propaganda anti-politik dari berbagai elemen masyarakat dan juga media massa, itu semua lahir dari pemikiran yang ahistoris dan bertentangan dengan tradisi politik dan peradaban Islam. Pemikiran dimaksud adalah pemikiran Barat yang menganggap politik itu urusan dunia dan kekuasaan belaka.

Kalau seorang ulama besar seperti Imam al- Ghazali berpendapat bahwa berpolitik adalah fardlu kifayah, tentu Sang Hujjatul Islam itu memahami betul bahwa politik adalah salah satu keharusan yang perlu dikuasai umat Islam. Dikatakan demikian karena politik sangat menentukan kelangsungan aqidah dan ajaran Islam secara keseluruhan. Politik pada dasarnya merupakan usaha-usaha perbaikan manusia menuju jalan yang lurus dan menyelamatkan kehidupan kita di dunia dan di akhirat. Dengan pengertian seperti ini, politik sangat terkait dengan iman dan aqidah, karena hanya iman dan aqidah yang bisa membuat manusia selamat atau bahagia di dunia dan akhirat.
Tanpa politik, kelangsungan hidup aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah bisa berada dalam bahaya tatkala kekuasaan politik dipegang oleh mereka yang memusuhi aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Melalui politik, ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah dapat terus dipelihara, dilestarikan dan dikembangkan dalam masyarakat.

Pada saat yang sama, apa yang disebut sebagai kebaikan bersama atau kemaslahatan umat itu juga dapat diwujudkan melalui politik. Itulah kenapa sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan tabiin dalam menegakkan bendera Islam dan amar ma’ruf nahi munkar senantiasa tidak terlepas dari politik.
Dalam sejarah dan perspektif Islam, berpolitik merupakan hal yang sangat mulia. Hanya orang Islam yang sudah terkontaminasi oleh pemikiran sekular yang menyatakan politik itu kotor, atau enggan berpolitik. Dikatakan demikian karena dalam pemikiran sekular yang menjadi salah satu ciri pemikiran Barat itu, politik dianggap sepenuhnya urusan dunia. Sementara dalam Islam, politik bukan semata urusan dunia, tetapi juga urusan akhirat. Dalam Islam memang tidak dikenal konsep pemisahan urusan dunia dengan urusan akhirat. Keduanya terkait dan sama-sama penting. Ini berbeda dengan filsafat sekularisme Barat yang memisahkan urusan dunia dengan urusan akhirat, memisahkan urusan agama dengan urusan negara.
Politik dalam tradisi pemikiran Islam juga bukan semata ihwal merebut atau mempertahankan kekuasaan sebagaimana pemikiran Barat. Kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mewujudkan kemaslahatan umat (mashalih al-ra’iyyah). Jadi, kekuasaan tidak ada artinya jika berhenti pada kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan
tidak ada artinya jika hanya berputar-putar pada siapa berkuasa dan bagaimana merebut kekuasaan. Sebab pada hakikatnya kekuasaan merupakan amanah yang harus diemban oleh para pemimpin untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemasla- hatan rakyat.
Sedemikian pentingnya politik dan kekuasaan sebagai sarana memelihara aqidah serta mewujudkan kemaslahatan umat, maka para ulama menegaskan bahwa politik umat harus pararel dengan aqidahnya: siyaasatul ummah mabniyatun ‘alaa ‘aqidatiha (politik ummat itu dibangun di atas dasar aqidahnya). Barang siapa beraqidah Khawarij, maka politiknya juga Khawarij. Apabila aqidahnya Wahabiyah, maka politiknya juga Wahabiyah. Demikian pula, apabila aqidahnya adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka politiknya juga Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dalam konteks politik Indonesia, kalau ada orang mengaku NU (Nahdlatul Ulama) dan beraqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka politiknya adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang nota bene merupakan satu-satunya partai yang didirikan oleh NU dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dari sudut pandang ini, politik jelas merupakan upaya kita untuk memelihara dan mengembangkan aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dengan niat semacam itu maka politiknya warga NU adalah politik yang berdimensi ukhrawi, memiliki nilai ibadah. Ia bukan sekadar pesta pora demokrasi, melainkan lebih dari itu adalah jalan panjang pengabdian kita kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita sebagai warga NU untuk terus menerus menjaga dan memelihara aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah pada satu sisi, dan pada sisi yang lain menjaga dan memelihara politik NU – dalam hal ini adalah PKB— agar tetap kuat, besar dan pada gilirannya bermanfaat bagi semua warga bangsa Indonesia tanpa kecuali (rahmatan lil ‘alamin).

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah wajib kita jaga dengan terus melestarikan dan mengembang- kan tradisi-tradisi dan amaliah-amaliah keagamaan yang bersumber kepadanya, seperti tahlil, maulid, manaqib, ziarah kubur dan seterusnya. Namun jangan lupakan juga untuk memelihara politiknya, memelihara politik NU dan Ahlus Sunnah wal Jamaah agar kelak politik itu tidak merusak aqidah kita. Banyak bukti menunjukkan apabila kekuasaan politik berada di tangan orang-orang atau kelompok yang bukan Ahlus Sunnah wal Jamaah, maka cepat atau lambat kekuasaan politik itu akan menggerus ajaran dan tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah di negeri ini. Sebaliknya, apabila politik tidak didasari dengan aqidah, maka politik itu juga tidak ada man- faatnya untuk kehidupan agama dan masyarakat. Tak pelak, aqidah dan politik harus terus menerus kita jaga dan besarkan, jangan pernah dipisah- pisahkan.

Itulah pentingnya politik dan berpolitik dalam Islam. Sekaligus pentingnya menjaga aqidah dengan berpolitik yang disertai akal sehat dan niat yang tulus untuk menjaga aqidah pribadi dan umat.

Kaliwungu, 2 Desember 2013
Berpolitik itu Fardlu Kifayah
Dan Kenapa Kita Harus Memilih PKB
(Kata Pengantar- buku mas hanif dzakhiri)

Oleh: KH Dimyati Rois
Pengasuh Pondok Pesantren “Al-Fadlu wal Fadhilah” Kaliwungu Kendal Jateng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful